Monday, February 09, 2015

Lebih Baik Diasingkan daripada Menyerah pada Kemunafikan


Pasti kalian pernah denger quotes sebelumnya. Yap, quotes itu diungkapkan oleh Soe Hok Gie, salah seorang aktivis di tahun 1960an. Pemikirannya yang sangat fenomenal menjadikan dia dianggap sebagai salah satu sosok anak muda yang berkualitas. Saya sendiri saat pertama kali mendengar quotes diatas beberapa tahun yang lalu, saya langsung berpikiran kalau Gie adalah salah seorang yang patut dikagumi.

Jaman sekarang, menurut pandangan saya, banyak sekali orang-orang yang tidak seberpendirian, seberani dan selugas Gie dalam menyampaikan pemikirannya. Dalam arti lain, banyak orang-orang beraninya hanya ngikut arus. Bahkan saking ngikut arusnya, mereka gak ngeh kalau arus yang mereka ikuti sebetulnya airnya keruh. Maksudnya apa ? Iya, maksudnya adalah pergaulan atau sikap atau apapun yang mereka ikuti itu sebetulnya salah.

Contoh, sikap membully di sinetron-sinetron kebanyakan jaman sekarang. Mungkin ada beberapa dari anda yang sama seperti saya, sudah sangat jarang nonton televisi lokal. Kok sudah jarang nonton televisi lokal, tapi bisa tahu ada sikap bully membully di sinetron tersebut. Nah, coba dibaca baik-baik kalimat saya di atas. Saya bilang, sangat jarang, artinya, sesekali pernah menonton. Hehehe...

Sekalinya nonton, pas lagi adegan anak SMA membully seorang temannya dengan beberapa teman pengikut lainnya. Saya langsung nyeletuk, "hadeuuuh ini anak-anak gak pada belajar aja ya daripada berantem-berantem gini". Hahaha... Rempong ya, sinetron aja dikomentarin.

Saya paling gak suka sikap-sikap kaya gitu. Kalau boleh jujur, waktu SMA, saya banyak dibenci. Karena saya dikenal sebagai orang yang berani ngomong, berani speak up. Kalau ada yang gak suka sama saya, saya lebih suka mereka ngomong langsung dihadapan saya. Kalau enggak, akan saya tantang. Eits, tapi jangan salah paham ya. Saya bukan orang yang songong atau sok berani petantang petenteng ngomel-ngomelin orang. Tapi justru saya masa bodo sama sikap orang. Saya tidak pernah mengusik orang. Artinya, kalau saya sampai berkoar, berarti ada yang mengusik saya. Dan saya akan lebih suka kalau segala hal perusikan itu langsung diselesaikan di hadapan mata. Bukan dengan ngomongin orang di belakang.

Kayanya sikap saya yang begitu nurun dari mama deh. Hahahaha... Soalnya di lingkungan tetangga itu, mama dikenal sebagai orang yang galak. Prinsipnya sama, 'saya tidak pernah mengusik orang, jadi jangan coba-coba mengusik saya dan keluarga saya.' Duh, mama kalau udah ngamuk sama orang, ngeriiiiii~~~ Bapak-bapak yang mulutnya comel aja ditantang sama mama. Sampe malu sendiri tuh Bapak-Bapak. Hahahaha... Ampun maaa.... :D

Lah kok jadi ngomongin mama ?! Hehehehe...

Lanjut !

Jadi menurut saya, saya lebih baik dibenci banyak orang karena tidak mengikuti satu orang yang mempunyai banyak teman, tapi dia melakukan kesalahan, daripada menjadi salah satu dari mereka, yang pada akhirnya juga melakukan kesalahan.


NAH !!

Saya sangat setuju dengan kalimat diatas, MENDIAMKAN KESALAHAN ADALAH KEJAHATAN. 

Kalau kita udah tau bahwa apa yang seseorang lakukan itu adalah sebuah kesalahan, untuk apa diikuti. Lebih baik saya menjauh.

Kenapa ?


Karena saya tidak bisa merubah orang yang ada di sekitar saya, tapi saya bisa merubah orang-orang yang saya pilih untuk tetap berada di sekitar saya.

Untuk apa bertahan dengan seseorang yang tidak bisa membawa energi positif ke dalam hidup kita ? Yang ada, nanti hidup kita jadi berkurang malah habis energi positifnya. Jadi lebih baik kita yang menjauhkan diri dari mereka.

Karena kita berhak menentukan siapa saja yang ada disekitar kita.

Kita berhak mendapatkan perlakuan baik dari orang lain.

Kita berhak memiliki hidup yang tenang tanpa orang-orang negatif di dalamnya.

Kamu setuju ??

No comments:

Post a Comment